Ziarah ke Makam KH. Muhammad Munawwir Krapyak, Guru Besar Al-Qur’an di Indonesia

Kegiatan169 Views

Mengawali rangkaian kegiatan Milad ke-6 Yayasan Cinta Qur’an, para santri Rumah Tahfidz Cinta Qur’an bersama para pengurus yayasan melakukan ziarah (8/1) ke makam KH. Muhammad Munawwir Krapyak di Dongkelan.

Ziarah ke makam Mbah KH. Munawwir Krapyak ini penting agar para santri dapat memetik spirit dan kecintaan beliau yang amat besar terhadap al-Qur’an. Betapa pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Krapyak (1870-1942) ini pernah menekuni al-Qur’an dengan riyadhah yang luar biasa, yakni sekali khatam dalam tujuh hari tujuh malam selama tiga tahun; lalu sekali khatam dalam tiga hari tiga malam selama tiga tahun; lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama tiga tahun, lalu membaca al-Quran secara terus-menerus selama 40 hari.

Pada tahun 1888, KH. Munawwir berangkat ke Makkah untuk belajar ilmu al-Qur’an dan menatap di sana selama 16 tahun. Setelah itu, melanjutkan belajar ke Madinah. Selama 21 tahun di kedua kota suci tersebut, beliau memperdalam al-Qur’an, tafsir, dan qiraah sab’ah.

Menurut buku Para Penjaga Al-Qur’an (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang Kementerian Agama), guru qiraah sab’ah (tujuh varian bacaan Al-Qur’an) KH. Munawwir Krapyak adalah Syekh Yusuf Hajar. Adapun sanad tahfidznya dapat diketahui secara lengkap sebagai berikut.

Sanad Al-Qur’an KH. Munawwir Krapyak Bersambung sampai Rasulullah Saw.

KH. Munawwir Krapyak, dengan qiraah Imam ‘Ashim menurut riwayat Imam Hafsh, mengambil dari Syekh Abdul Karim bin Umar al-Badri, dari Syekh Ismail Basytin, dari Syekh Ahmad ar-Rasyidi, dari Syekh Musthafa bin Abdurrahman, dari Syekh Ahmad Hijazi.

Berlanjut ke atas dari Syekh Ali bin Sulaiman bin Abdillah al-Manshuri, dari Syekh Sulthan al-Mazzahi, dari Syekh Saifuddin bin ‘Athaillah al-Fadhali, dari Syekh Syahadzah al-Yamani, dari Syekh Nashiruddin Muhammad bin Salim at-Thablawi, dari Imam Abu Yahya Zakariya al-Anshari.

Berlanjut ke atas dari Imam Ahmad bin As’ad al-Amyuthi, dari Imam Muhammad bin Muhammad al-Jazari, dari Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri, dari Imam Abu al-Hasan Ali bin Syuja’, dari Imam Abu al-Qasim asy-Syatibi, dari Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Hudzail, dari Imam Abu Daud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dari Imam Abu Amr Utsman ad-Dani, dari Imam abu al-Hasan Thahir bin Ghalbun, dari Imam Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Hasyimi, dari Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Sahl al-Asynani.

Berlanjut ke atas dari Imam Abu Muhammad Ubaid bin as-Shabah, dari Imam Abu ‘Amr Hafs bin Sulaiman, dari Imam Ashim bin Abi an-Najud, dari Imam Abu Abdirrahman Abdullah bin Habib as-Sulami, dari Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan, yang mengambil langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Para santri Rumah Tahfdiz Cinta Qur’an bersama pengurus Yayasan Cinta Qur’an, Perum Purwomartani Baru, Kalasan, Sleman, saat berziarah ke makam KH. Munawwir Krapyak.